Geng Cabai, Jatuh untuk Kembali Bangkit

Cabai Rawit
Akhirnya kamu matang juga, Nak! Foto oleh Rizky Almira

Kadang kehidupan tak sesuai dengan impian. Manusia pernah merasakan jatuh. Kemudian mereka akan cari cara untuk kembali bangkit. Setelah berhasil bangkit, kekuatan mereka telah bertambah.

Sedikit tertunda untuk kembali bercerita tentang tanaman yang sedang aku rawat. Sebelumnya aku sudah bercerita tentang Sayur MayurBams, dan Mboo. Selain mereka, masih ada tanaman lain yang belum aku ceritakan.

***

Aku sengaja untuk pulang kerja lebih awal, karena punya janji dengan Totoro untuk menonton film bersama. Sepasang kaki ini penuh semangat menapaki anak tangga menuju lantai 2 sebuah bangunan yang lebih mirip wisma. Tiba-tiba langkah terhenti di dekat pintu kamar.

“what the….” mataku memergoki Geng Cabai tumplak di lantai sejajar dengan kakiku.

Rasanya aku ingin mengumpat sekencang-kencangnya. Masih diselimuti shock dan kesal, aku buru-buru mengembalikan geng cabai ke posisi seperti semula. Ketar-ketir, aku mengkhawatirkan keadaan geng Cabai. Beberapa dahannya patah, daunnya ada yang mengering.

cabai rawit
Pedih! Foto oleh Rizky Almira

“Kok bisa ya?” aku masih bertanya-tanya.

Aku berusaha mengingat-ingat, hari itu turun hujan dengan angin kencang atau gimana ya. Selama ini apabila hujan deras disertai angin sekalipun, geng Cabai masih anteng kok. Entah, kenapa Geng Cabai bisa jatuh ke lantai. Media tanamnya yang berupa baskom masih rapi di tempat semula. Hal ini masih jadi teka-teki.

***

Setelah memanen geng Sayur Mayur, aku beralih menanam cabai. Pikirku saat itu harganya sedang melambung, jadi apa salahnya menanam cabai. Kira-kira 3 bulanan, geng Cabai tumbuh dengan subur setelah melewati proses panjang mulai dari penyemaian.

Namanya Geng Cabai, terdiri dari 6 pohon cabai rawit yang bibitnya aku beli di tempat dia – yang terkasih – memesan hadiah ulang tahunku. Senang ketika cabai mulai nongol di balik dahan. Ada kegembiraan tersendiri.

“Yay! Akhirnya tumbuh juga kamu, Nak!”

Kemudian selang beberapa hari muncul lagi cabai-cabai yang lain, mulai rimbun dan akhirnya cabai yang pertama kali tumbuh warnanya memerah. Hahaha. Gembira!
Rasanya itu seperti kamu sedang melihara ayam kemudian bertelur. Terbayang gimana gembiranya kala itu.

Namun rasa gembira itu harus gugur saat melihat Geng Cabai tergeletak begitu saja di lantai. Pedih.

***

Aku menambah air di media tanamnya, menuang sedikit nutrisi. Bibirku komat-kamit terus memanjatkan doa pada Tuhan untuk minta kesembuhan Geng Cabai.

Setelah membuka mata untuk mengawali hari, aku bergegas keluar kamar. Kembali menengok keadaan Geng Cabai. Keadaannya belum banyak berubah. Terpaksa menunggu dan terus menunggu hingga beberapa hari ke depan, berharap Geng Cabai pulih. Tapi belum juga sesuai harapan. Akhirnya tanganku tak tahan lagi meraih gunting untuk memotong dahan dan daunnya yang layu.

“Cepat sembuh ya, Bee. Kalian pasti bisa bertahan, karena kalian kuat.” bisikku sambil memunguti dedaunan layu.

Geng Cabai sekarang tak lagi bertengger di depan kamar, mereka harus meringkuk di pojok teras kamar. Aku sengaja menyembunyikan mereka dari ganasnya mentari, iseng saja barangkali keadaannya membaik jika tak langsung terpapar sinar matahari. Dan benar, beberapa hari kemudian Geng Cabai-ku dahannya kembali menguat dan daunnya kembali segar.

***

cabai rawit
Akhirnya pulih! Foto oleh Rizky Almira

Kadang kehidupan tak sesuai dengan impian. Manusia pernah merasakan jatuh. Kemudian mereka akan cari cara untuk kembali bangkit. Setelah berhasil bangkit, kekuatan mereka telah bertambah.

Aku percaya, Geng Cabai akan kembali tumbuh dengan subur setelah jatuh. Dahan dan daun yang kering telah kubuang, supaya lekas tumbuh dahan yang baru dengan daun yang lebih lebat. Aku pun percaya, masa sulit setelah jatuh pasti bisa kuhadapi. Aku akan membuang kenangan-kenangan yang menyakitkan, mengosongkan sebagian untuk kembali dijejali oleh kenangan baru yang lebih menyenangkan.

Aku akan buang jauh hal-hal yang tak perlu, supaya aku bisa dengan leluasa bergerak. Supaya aku bisa tumbuh lebih besar. Aku percaya Gang Cabai bisa melalui masa pahit ini. Aku pun percaya pada diriku bahwa aku juga mampu.

 

Yogyakarta, 25 April 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s