Malioberen, Kegiatan Seru yang Mengajak Saya Menjelajah Waktu

Menyusuri bangunan kuno dan mencari tahu cerita di baliknya seperti sedang membaca buku sejarah yang belum tentu tersedia di bangku sekolah.

Ada kesenangan tersendiri saat menyusuri jalanan dengan kanan kiri berderet bangunan tua. Kadang apa yang kita anggap indah, belum tentu bagi orang lain. Bagi saya, bangunan lawas begitu istimewa. Kenapa?
Bangunan itu menyimpan tumpukan kisah, bisa saja menjadi sangat istimewa karena sebagai saksi sebuah peristiwa besar.

Hingga kini saya masih suka melintasi jalan Malioboro. Tak peduli dengan macet yang hampir melengkapi setiap malam. Kamu tahu sendiri bagaimana padatnya lalu lintas di jalan Malioboro, nggak siang nggak malam. Apalagi ketika musim liburan tiba, beh… macet pol!

Daripada bete karena macet, saya sengaja pergi pagi dan memarkir kendaraan di depan Kantor Pos Besar Yogyakatya. Saya menyeberang dan langkah terhenti saat sejajar dengan Monumen Serangan Umum 1 Maret. Tak butuh waktu lama untuk menemukan peserta Malioberen yang akan menjelajahi Malioboro pagi ini.

Sebelum matahari semakin terik, rombongan Malioberen berbaris menuju titik pemberhentian pertama. Titik lokasi yang akan kami singgahi adalah bangunan cagar budaya yang tersisa di kawasan tersebut, selain itu juga ada beberapa bangunan tua yang masih digunakan hingga sekarang.

Menengok Bekas Lantai Dansa yang Kini Dikenal Gedung Seni Sono

Gedung Seni Sono
Gedung Seni Sono (sumber akun twitter @entoek_moe )

Rombongan berhenti tepat di depan Gedung Agung. Sembari mendengarkan leader menjelaskan sejarahnya, mata saya tak berhenti mengamati Gedung Agung yang bangunannya nampak familiar. Oh, saya baru ingat kalau gedung ini memiliki eksterior seperti Istana Negara jika dilihat sepintas.

Tak perlu bertanya, leader seolah mengerti pertanyaan yang ada di pikiran. Dia menunjuk gedung bergaya Eropa yang ada di samping Gedung Agung.

“Nah, gedung yang ada di sana namanya Gedung Seni Sono”, leader mengarahkan jari telunjuknya ke arah bangunan yang ada di samping Gedung Agung.

Apa istimewanya gedung ini? Menurut penuturan leader, gedung ini sering digunakan sebagai tempat pesta dansa yang sering diselenggarakan khusus untuk Nonpribumi.

Tak Jauh dari Lantai Dansa, Berdiri Rumah Peribadatan Kristiani yang Sudah Ada Sejak Baheula

GBIP Marga Mulya
Erwin bercerita tentang GBIP Marga Mulya. Foto oleh Rizky Almira

Setelah Gedung Seni Sono, rombongan beranjak ke titik selanjutnya yang lokasinya ada di ujung sebuah pertigaan jalan. Apakah kamu bisa menebak titik kedua? Lokasinya ada di ujung pertigaan dan halamannya selalu dipenuhi motor yang sedang parkir. Masih belum bisa menebak?

Baiklah, saya akan memberitahumu. Titik kedua adalah Gereja Kristen Margomulyo atau lebih dikenal dengan GPIB Marga Mulya. Bangunan bergaya Eropa ini jika dibandingkan dengan yang ada di foto baheula sudah berbeda. Kenapa? Halamannya sudah tak lengang seperti kondisi yang ada di foto beberapa puluh tahun silam. Kini halamannya dimanfaatkan sebagai lahan parkir yang selalu penuh.

Kapan gereja ini didirikan? Kalau dari hasil selancar sana sini, GPIB ini telah resmi berdiri sejak tahun 1857 dengan Pimpinan yang merupakan utusan langsung dari Pemerintah Belanda hingga generasi ke 12. Selanjutnya kepemimpinan gereja ini dipegang oleh pribumi. GPIB masuk ke jajaran gereja tertua yang ada di Yogyakarta.

Setelah Gereja, Ada Tempat Gaul yang Sempat Berjaya

Bioskop Indra Yogyakarta
Bioskop Indra yang Berjaya di Masanya ( sumber Mapiodotnet )

Rombongan melewati sebuah bangunan mangkrak dan lagi-lagi sebagian halamannya dimanfaatkan sebagai lahan parkir kendaraan. Siapa sangka bahwa gedung yang tak terawat ini dahulunya adalah tempat gaul yang sempat berjaya. Ada yang tahu namanya? Coba tebak namanya! Bangunan ini tak jauh dari lokasi Hamzah Batik dan masih ada di Kawasan Malioboro.

Ya! Bioskop Indra namanya. Ohya, ada cerita yang cukup menggelitik soal bioskop ini. Di sela menjelaskan tentang Bioskop Indra, leader menceritakan kebiasaan unik penonton bioskop ini. Bayangkan saja ketika kita ada di zaman Bioskop Indra masih beroperasi, penonton sangat malas pergi ke kamar kecil ketika kebelet. Kemudian mereka dengan santainya akan jongkok dan pipis di tempat mereka menikmati film yang sedang diputar. Padahal sebagian penonton bioskop ini adalah Nonpribumi.

Tidak hanya itu, setiap kali ada adegan panas di sela alur cerita film, penonton bersorak antusias. Saya jadi curiga, jangan-jangan hiburan kala itu sangat terbatas ya. Jadi lihat adegan panas sedikit saja langsung heboh. Hehe

Beranjak dari Bioskop Indra, Menengok Toko Roti Biawak yang Jadi Legenda

Toko Djoen Yogyakarta
Toko Djoen. Foto oleh Rizky Almira

Nggak jauh dari Kampung Ketandan, leader berjalan kaki mendahului rombongan dan berhenti di depan sebuah ruko. Setelah semuanya berkumpul, ia mulai menjelaskan sembari menunjukkan sebuah dokumentasi lama yang isinya persis di titik kami berhenti. Rupanya kami sedang berada di depan Toko Kuwe “Djoen” yang telah beroperasi puluhan tahun silam.

Apa yang berbeda dengan toko tersebut antara dulu dan sekarang? Perbedaan yang mencolok adalah penjaja cindera mata khas Yogya yang menutupi teras ruko. Untuk bangunannya sendiri hampir tidak mengalami perubahan. Toko “Djoen” memiliki 2 lantai, lantai pertama digunakan untuk memajang produk yang dipasarkan. Sedangkan lantai dua dulu dijadikan untuk tempat tinggal pemilik, selain menjadi dapur untuk pembuatan kue.

“Sekarang lantai dua sudah nggak digunakan lagi, saya waktu main oleh pemilik disuruh naik ke lantai 2. Begitu buka pintu seisi ruangan berdebu, saya takut dan mengurungkan niat untuk masuk ke dalam” tutur Erwin, leader rombongan kami.

Toko “Djoen” sendiri dikelola secara turun menurun dan hingga saat ini belum pernah dijual ke orang lain. Apa sih kue favorit yang dijual toko ini? Kue yang masih jadi andalan sampai saat ini adalah roti biawak. Roti ini punya kemiripan dengan roti buaya khas Betawi. Sayangnya saat itu toko masih tertutup rapat, jadi belum berkesempatan mencicipi Roti Biawak.

Dari Toko Roti, Sekarang Menuju Toko Obat Racik

Ternyata nggak jauh dari tempat kami berkumpul, ada toko obat racik tradisional khas Cina. Saya membaca plang besar dengan tulisan T.O. Tek An Tjan.  Leader juga menunjuk toko yang ada di seberang jalan, ada toko obat Enteng (En & Njanhoo) dan Toko Tek An Tong (Sumber Husodo). Apa istimewanya dari ketiga toko tersebut?

Ketiga toko tersebut sudah beroperasi sebelum Indonesia Merdeka. Ada pula cerita menarik dari ketiga toko ini. Erwin bercerita bahwa meskipun ketiga toko ini lokasinya berdekatan, namun nggak ada persaingan antar toko. Justru mereka sangat kompak. Misalnya ada pembeli yang nekat menawar dan nggak berujung sepakat, kemudian mencoba peluang ke toko obat yang lain maka toko lain akan memberi harga yang lebih mahal.

“Beli obat kok ditawar. Haram hukumnya menawar obat” kata Erwin.

Nggak hanya soal harga, ketika salah satu toko punya hajat maka toko obat yang lain akan libur berjualan. Saat ini diantara ketiga toko, hanya Toko Obat Enteng (En & Njanhoo) yang masih bertahan dengan obat racik ala Tionghoa.

Selain Toko Obat Racik ala Tionghoa, Ada Pula Rathkamp Drugstore

apotek kimia farma yogyakarta
Rathkamp Drugstore. Foto oleh Rizky Almira

Ada yang pernah mendengar Rathkamp Drugstore sebelumnya? Rathkamp Drugstore yang sekarang lebih dikenal dengan Apotek Kimia Farma merupakan bangunan dengan eksterior Eropa dan dindingnya dilapisi cat berwarna putih. Lokasinya satu deret dengan toko obat Enteng (En & Njanhoo).

Erwin kembali memperlihatkan dokumentasi bangunan yang diambil puluhan tahun lalu. Saya dengan jeli mengamati bangunan yang ada di hadapan dan foto yang sedang dipegang leader. Mencoba mencari perbedaan dari keduanya. Apakah ada perbedaan yang mencolok? Sepintas tidak ada yang berubah. Hanya saja bagian depan dari banguan ini kini dirombak dengan dinding dan pintu kaca.

Menurut penuturan Erwin, dulu lantai dua digunkaan untuk tempat tinggal Kepala Apotek. Pernyataannya didukung dengan foto yang ia pegang, nampak ada sosok yang tengah melongok keluar jendela dan hanya terlihat setengah badan. Sekarang, lantai dua difungsikan sebagai gudang Kimia Farma.

 

***

Apa serunya kegiatan ini? Menurut saya, menyusuri bangunan kuno dan mencari tahu cerita di baliknya seperti sedang membaca buku sejarah yang belum tentu tersedia di bangku sekolah. Menambah wawasan banget. Bagi saya setiap bangunan baik kuno maupun kekinian selalu menyimpan cerita penghuninya. Menjadi saksi bisu untuk berbagai peristiwa.

Begitu menyenangkan ketika tahu cerita menarik di balik sebuah bangunan, saya juga bisa memetik sebuah pelajaran tentang kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s