Cerita Pendek : 24 Jam (Bagian 2)

kisah 24 jam
Kisah berlalu. Foto oleh Rizky Almira
Percakapan kami membahas apapun. Mulai dari pengalaman yang seru hingga kisah yang memilukan. Disela percakapan, aku menakutinya untuk meninggalkannya pulang. Kemudian dia menahan lenganku. Tanganku refleks meraih jemarinya untuk kugenggam. Hingga dia tertidur, jemari kami masih berpautan. Tak terlalu erat, juga tak terlalu renggang.

“Masih ada kamar kosong?”

“Masih, ada beberapa yang kosong di belakang. 100ribu ya per kamar” sambut ibu penjaga homestay ramah.

Kami singgah di sebuah homestay sederhana pinggir jalan. Setelah mencuci kaki di kamar mandi, aku meringkuk di tepi ranjang. Tak lama ia pun menyusul berbaring di sebelah. Mencoba memejamkan mata, berharap lekas bisa tidur nyatanya sulit. Tv sudah kupadamkan, lampu pun sudah. Tapi tetap saja mata ini sulit terpejam.

“Kamu belum bisa tidur ya?” tanya saya pada Ebby.

“Belum, dingin banget.” jawabnya.

“Pakai selimutnya gih”

“Selimutin..” pintanya memelas. Kemudian aku membentangkan selimut dan menutupi semua badannya. Semua termasuk kepalanya.

“Iseng banget sih!” serunya sambil meremas lenganku. aku hanya tertawa.

Menit berlalu dan mataku masih bandel belum terpejam. Padahal shubuh nanti kami merencanakan untuk pergi ke Bukit Purwosari demi bisa menikmati sunrise. Kemudian hujan turun, membuat suasana lebih senyap.

“Masih dingin..” kata Ebby lirih di antara gelap.

“Sini aku peluk..”

Saat itu ia memunggungiku. Kemudian ia memutar badan menghadap ke arahku, dia membenamkan wajahnya di dadaku. Aku mendekapnya sembari mengusap kepalanya. Pintaku hanya satu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Aku menjaganya tidur hingga pagi menjelang. Tiba-tiba aku tak tega mengajaknya jalan kaki menapaki tangga untuk mencapai bukit Purwosari. Apalagi baru saja turun hujan, membayangkan tanahnya yang becek dan berlumpur justru menambah rasa malas. Aku hanya bisa membiarkan ia menikmati tidurnya.

“Ebby…Bangun!” bisikku.

“Ini dikasih pisang goreng masih hangat dari Ibu penjaga homestay” tambahku.

Ia hanya menyahut lirih dan bersusah payah untuk bangun setelah aku paksa. Akhirnya dia bangun dan duduk di dekat aku meletakkan pisang goreng dan teh panas.

“Eh, kirain ambil pisang goreng. Ternyata ambil handphone ya!” pergokku.

Aku menggodanya berkali-kali baru ia memakan pisang gorengnya. Aku pun duduk di sampingnya dan melahap pisang goreng yang tersisa.

“Habis makan pisang goreng, aku tidur lagi ya” pintanya.

“Iyaa, dibangunin jam berapa?”

Dia meminta untuk dibangunkan kembali pukul 8 pagi. Sesekali dia sibuk dengan handphone-nya, aku kembali membuka percakapan.

“Eh, tahu nggak sih tadi setelah mbaknya ngasih pisang goreng sama teh. Aku ngikutin dia terus bilang mau numpang sholat. Aku wudhu di kamar mandi luar dekat ruang tamu. Nah pas muter kran, eh krannya lepas. Airnya nyembur ke arahku, aku panik. Terus kran aku tekan lagi ke tempatnya, aku putar. Bisa! Jebakan batman banget nggak sih. Untuk pas aku keluar kamar mandi nggak ada yang neriakin ‘Kena Deh!’. Takut banget aku tadi”

“Hahaha… Imajinasimu kok kemana-mana sih!” katanya sambil tertawa.

“Habisnya, aku panik kalau nggak bisa terus disuruh ganti.”

Percakapan kami membahas apapun. Mulai dari pengalaman yang seru hingga kisah yang memilukan. Disela percakapan, aku menakutinya untuk meninggalkannya pulang. Kemudian dia menahan lenganku. Tanganku refleks meraih jemarinya untuk kugenggam. Hingga dia tertidur, jemari kami masih berpautan. Tak terlalu erat, juga tak terlalu renggang.

***

Dia bangun dari tidurnya yang lelap. Saat itu jam tanganku menunjukkan waktu hampir jam 11 siang. Kami berkemas untuk kembali bergegas membelah jalanan yang sudah mulai dipadati oleh kendaraan. Teriknya matahari mampu mengoyak fokus. Daripada emosi di jalanan, kami mengisi perut dengan menu tahu blabak. Ia kembali anteng dan melahap makanan pelan tapi pasti. Selesai makan siang, perjalanan menuju Yogyakarta berlanjut. Terik dan macet, duet maut pengacau emosi.

Jalur alternatif adalah pilihan tepat kala itu. Melintasi jalanan yang sedang dalam perbaikan tak mengapa, asal terhindar dari macet yang berkepanjangan. Macet sangat memuakkan. Aku pun semakin tak tega melihat Ebby yang terlihat kepayahan.

“Aku cuma ngantuk..” ucapnya kemudian ia kembali diam.

“Kupas aja nih, biar kamu nggak badmood” aku menyodorkan sebungkus coklat untuknya.

Ia menimpali dengan senyuman. Aku mempercepat laju motor dan mengajaknya istirahat sebentar di kos. Begitu sampai di kos, ia langsung merebahkan badan dan kembali sibuk dengan handphone-nya. Aku meninggalkannya sebentar untuk mandi. Kemudian menyusul berbaring di sampingnya.

“Katanya mau tidur?”

“Iya, bentar lagi. Aku nonton video tutorial make-up dulu biar ngantuk” jawab Ebby.

Dia bertahan beberapa menit menonton video sebelum akhirnya tertidur. Sempat ikut terlelap sampai aku tersadar ternyata belum sholat Dhuhur. Aku segera beranjak. Hujan turun dengan derasnya, diselingi petir yang menderu. Karena terkejut, ia refleks menghadapku dan tangannya memegang lenganku. Tanganku mengusap kepalanya, menenangkannya. Aku menghitung sudah 2 kali ini, ia tanpa sadar mencondongkan badannya ke arahku dan menindihkan lengannya ke badanku.

Waktu sedang berlari, semua jadi terasa cepat berlalu. Aku membangunkan Ebby untuk menawarinya makan. Ia hanya minta indomi. Sembari menunggunya bangun, aku memasak mie goreng dan menyeduh susu coklat panas untuknya. Begitu masuk kamar, dia masih tergeletak dengan mata terpejam. Membangunkannya dengan aroma indomi adalah salah satu jurus terjitu supaya ia mau bangun dan duduk. Aku senang melihatnya lahap. Ia selalu anteng saat makan, tak berbicara. Hanya fokus pada makanan.

“Sudah habis, aku ngrokok ya?”

“Iya, ngrokok di sini aja”

Di tepi jendela kamar, aku menatap rintik hujan. Kalau boleh meminta, aku ingin hujan turun lebih lama. Supaya aku bisa berlama-lama dengannya. Aku merasa, sisa waktu dengannya semakin tipis. Rasa takut diam-diam menyelinap, apakah aku bisa bertemu dengan dia kembali? Apa yang akan terjadi setelah hari ini? Ketakutan menyamar menjadi pertanyaan yang penuh kekhawatiran. Dia kembali berbaring di ranjang. Membuyarkan lamunan.

“Kamu kalau habis bangun tidur, makan dan ngrokok ceria banget ya!” seruku.

“Emang.. Aku diam itu belum tentu badmood, bisa jadi karena ngantuk, lapar atau sedang makan. Aku makan harus fokus biar makanku nggak terlalu lama”

Aku menyimak tiap ceritanya. Merunut kembali perjalanan kami hampir 24 jam yang lalu. Diam-diam aku mengamatinya, mencari tahu lebih banyak tentangnya. Aku tahu kebiasaannya, pokoknya hal sederhana yang belum tentu didapat saat ngobrol melalui pesan singkat. Aku dan dia berbeda. Dia perokok aktif, sedangkan aku bukan prokok. Dia suka kopi, aku lebih menyukai coklat. Dia tidak suka minum air putih, aku sebaliknya. Dia anak dugem dan doyan minuman beralkohol, aku? Aku lebih suka main ke Museum.

Kami punya sesuatu yang berbeda. Segala perbedaan itu belum berhasil menghalangiku untuk mulai suka.

“Aku tanya dong, saat ini ada orang yang dekat dengan kamu nggak?” kata-kataku sedikit kacau.

“Dekat? Dekat dalam hal apa nih?” tanyanya balik.

“Ya, dekat.”

“Belum ada sih.”

“Boleh nggak aku kenal lebih dekat sama kamu?” tiba-tiba kalimat tanya ini meluncur dari lidahku.

Apa-apaan ini? Seperti ada dua orang di atasku yang sedang berdebat. Di satu sisi, aku tidak ingin mengucapkan ini. Ingin menyimpannya dengan rapat. Lalu ada suara kecil lain yang berbisik, ucapkan saja sebelum jauh melangkah dan hanya menduga-duga. Harapanpun kian melambung.

“Boleh-boleh aja. Tapi aku belum ada orientasi menuju kesana. Apalagi mengingat hubungan di masa lalu yang tak terlalu baik. Aku malas kalau harus mengulang hal yang sama. Lagian kita baru pertama kali bertemu”

“Aku nggak masalah. Aku cuma ingin tanya, kalau kita merasa cocok ya ayo jalan. Kalau belum klik, enggak masalah juga buat aku. 24 jam bersama kamu itu nggak sebentar buatku. 1 menit aja, ada berapa detik? Apalagi 24 jam.”

“Gimana ya aku bingung, jujur aja aku masih malas untuk memulai sebuah hubungan. Aku takut mengulang drama sebelumnya.”

“Nggak masalah. Aku hanya ingin to the point sama kamu kalau aku ingin lebih dekat dengan kamu. Aku terkahir kali pacaran setahun yang lalu, aku dan dia putus karena ada orang ketiga dan kemudian dia lebih memilihnya. Ada rasa kayak takut untuk memulai kembali. Takut mengulang kesalahan yang sama. Tapi sekuat-kuatnya aku sendiri, aku juga butuh sandaran ketika payah. Aku ingin punya teman berbagi, kalau sedih tahu lari kemana, senangpun tahu harus cerita ke siapa. Intinya aku ingin punya pasangan untuk saling berbagi.” kemudian percakapan kami tertunda, ia harus menerima telepon dari sahabatnya.

“Begini aja, anggap aja aku nggak pernah menanyakan hal itu. Supaya nggak ada yang canggung.”

“Kenapa begitu? Nggak akan ada yang canggung” timpalnya.

Aku sempat memeluk sebelum mengantarnya pulang. Tepat 24 jam yang lalu, aku menjemputnya untuk makan malam. Aku terkulai di ranjang kamar. Rasanya seperti baru terbangun dari mimpi. Aroma badan orang lain yang masih tercium dari bantalku, membuatku sadar jika kejadian 24 jam yang lalu bukan sekedar mimpi. Itu nyata!

Aku kembali tertegun. Ada perasaan gelisah saat aku tak menerima kabar darinya. Apakah dia akan menghindar? Atau sebaliknya setelah kami berdua melewati 24 jam bersama.

Back to reality. Aku seperti kembali ke masa di mana aku belum mengenal Ebby. Kembali menjalani rutinitas sendiri. Kini yang tersisa hanya ingatan yang akan membekas. Kisah 24 jam ini membiarkanku merasakan senang dan sedih bersamaan. Senang karena sempat mengenalnya, sedih karena rasa takut yang menyeruak. Takut apabila hubungan kami setelah ini renggang dan kembali kehilangan.

Advertisements

One thought on “Cerita Pendek : 24 Jam (Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s