Kabar Itu Semakin Nyata

“Kalian semua punya potensi yang amat sangat besar dan kuat, please reach your dream as hard as you can.”

‘Hari ini mau buka apa kalian? Aku mau makan pepes tahu lagi nih.’ tanyaku pada teman-teman se-tim.

‘Wah.. aku juga pengin makan itu, mba’ sahut Ayi.

‘Iya, aku juga kepikiran buat makan pepes tahu. Soalnya dari kemarin habis jajan mahal. Jadi hari ini aku juga pengin makan hemat. Makan pepes tahu berapa sih, Ki?’ tanya Fira.

‘Nasi sama pepes tahu, tempe goreng tambah air putih biasanya 7ribu doang.’ jawabku.

‘Oke deh, ikut!’ kata Fira.

Pukul 5 sore lebih, kami belum meninggalkan kantor. Kami sengaja berbuka puasa di kantor dengan pizza. Makanan gratis hari ini dipersembahkan oleh Manager Finance. Jelas kami semangat menunggu adzan Maghrib berkumandang, karena pizza dengan toping keju dan sosis telah tersaji di meja. Woohoo! Menu buka puasa hari ini sangat terasa nikmat.

Beberapa terakhir aku dan teman-teman setim sering menghabiskan waktu untuk sekedar buka puasa bersama. Entah, kedekatan kami bermula sejak kapan yang jelas akhir-akhir ini kami semua merasa lebih dekat. Mungkin karena kami merasa senasib kali ya. Beberapa bulan terakhir aku sering menghabiskan waktu sendiri. Tak jauh berbeda dengan Ayi, semenjak kekasihnya merantau ke Ibukota ia lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman setim. Begitu pula dengan Vita, Fira dan Dinka. Bisa jadi karena selama dua pekan di Jakarta terbiasa bersama dan kebiasaan itu terbawa hingga di Yogyakarta.

Kami memesan menu pepes setelah memarkir motor di depan warung tenda. Sambil menunggu pesanan datang, kami menyelingi dengan saling canda. Semua nampak baik-baik saja. Padahal malam sebelumnya ada sebuah berita yang cukup mendebarkan. Ceritanya, kemarin kami masih seperti biasa menjalankan rutinitas harian lalu merencanakan buka puasa bersama di rumah makan seafood yang lokasinya memang terjangkau dari kantor. Kami bergegas sebelum Maghrib. Ternyata antri dan kami memutuskan untuk menunggu di sebuah surau yang jaraknya sekitar 20 m dari tempat makan.

Tingkah laku teman setim sering berhasil mengundang tawa. Candaan receh tak jarang terlontar dan disambut dengan tawa bersama. Fiuh… akhirnya kami bisa duduk dan menanti makanan yang dipesan tersaji. Semua bangku penuh. Sesekali api dari kompor berkobar menghangatkan mukaku yang kebetulan menghadap ke arah tempat memasak. Bau masakannya tak jarang membuat aku dan teman-teman bersin tiada henti. Saat menyantap makanan pun kadang harus berhenti sejenak, lalu…. hatchiiiiinggg!

Beberapa butir nasi menyembur kemana-mana. Suara bersinku tak mengusik teman-teman yang khusyuk menyantap sepiring nasi hangat, sayur mayur dan menu olahan seafood. Lalu beberapa menit kemudian, makanan habis tak bersisa.

‘Jadi begini sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan, Kik, Vit..’ Fira bersuara.

Aku yang semula sibuk dengan gawai langsung menoleh ke arah Fira dan memperhatikan sejenak. Begitupun dengan teman-teman yang lain.

‘Sebenarnya ada kabar buruk dan kabar baik yang ingin aku sampaikan. Kemarin aku habis meeting dengan CEO dan Leader dari divisi lain.’ ucap Fira.

Dia menjelaskan bagaimana kondisi tempat kami bekerja dengan sejujurnya. Kami menyimak penjelasannya.

‘Kabar buruknya gaes, bakal ada pengurangan personil dari semua divisi dan ini sangat berat bagiku, bagi kita semua. Apalagi aku merasa kalian adalah tim yang sangat hebat. Kalian begitu kuat hadepin banyak komplain dari customer setiap hari. Ditambah aku merasa sejak kita dari Jakarta, aku merasa dekat dengan kalian. Aku merasa hubungan kita nggak seperti atasan dan bawahan. Kalian selayaknya teman.’ terang Fira.

‘Sebenarnya badai ini sering terjadi di dunia startup sih. Tapi aku juga nggak menyangka kalau nanti akan menghadapi kemungkinan buruk. Padahal aku sempat berharap, perusahaan kita pasti bisa. Tapi kenyataannya tetap harus menghadapi hal berat ini. Kita semua harus siap-siap. Apapun yang terjadi, jangan pernah ada yang berubah. Tetaplah – menjalin pertemanan – seperti ini. Aku minta maaf ya, Kik, Vit, Yi, dan Din harus bilang pada kalian di tempat seperti ini. Aku ingin kalian tahu lebih awal.’ tambah Fira.

Mataku berdenyut saat menyimak penjelasan Fira. Akhirnya bentengku ambrol, ada sesuatu yang hangat keluar dari sudut mata. Tak bisa lagi membendungnya. Rasanya berat. Akupun mengiakan apa yang dirasakan oleh Fira dan sempat berharap luka lama tak akan terulang. Di mana harus berucap kata pisah saat lagi sayang-sayangnya. Kami semua tertunduk lesu dan bergegas keluar rumah makan setelah semua saling diam beberapa menit. Dan akhirnya kami berpisah di persimpangan jalan untuk pulang.

‘Guys..sekali lagi aku minta maaf ya, for any bad news today 😢’ pesan masuk dari Fira.

‘Maaf aku belum bisa jadi leader yang baik dan bisa diharapkan. It is indeed a nightmare for me too 😭.’

‘Apapun yang terjadi, aku sayang kalian.’ tanggapku.

Pikiranku sedikit kalut malam itu. Masih terbayang bagaimana raut muka teman-teman setelah mendengar kabar itu. Aku sempat cemas. Masihkah keceriaan menghiasi hari-hari kami ke depan?

***

Aku deg-degan saat membuka pintu begitu tiba di kantor. Lebih tepatnya mengkhawatirkan teman-teman setelah dengar beberapa informasi dari Fira semalam. Beberapa menit setelah duduk, aku tercengang dengan suasana yang tak seburuk bayanganku. Semua baik-baik saja, ceria seperti biasanya. Saling melontarkan guyonan. Seolah-olah sebelumnya tak terjadi apapun.

Aku yakin teman-temanku kuat. Pengalaman berat di masa lalu melatih mereka lebih tegar menghadapi segala kemungkinan dalam hidup. Terutama apapun yang mungkin terjadi di dunia startup. Secara tidak langsung aku banyak belajar dari mereka. Aku menyerap energi positif dari mereka. Buat apa takut? Buat apa cemas? Apabila kita percaya, setelah menghadapi situasi berat akan datang sesuatu yang lebih baik. Saat ini yang bisa dilakukan adalah berusaha dengan maksimal. Mengerahkan segala daya untuk memberikan yang terbaik. Berjuang untuk kesempatan terakhir dan menunjukkan bahwa kami bisa. Kami mampu dengan bersatu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s